Merela

Atas nama merela, tak semua orang sanggup, Gusti

Contohnya hamba-Mu yang satu ini

Merela adalah tugas negara yang sedari dulu saya emban, saya tempakan pada diri sendiri, tapi hasilnya?!

Ya, masih begini-begini saja

Susah, Gusti

Dari berbagai aspek hidup mana pun yang Engkau ambil, mana ada saya bisa dengan mudahnya merela, Gusti?!

Sambat hujan

Sambat panas

Sambat gaji pas-pasan

Sambat lagi

Lagi

Besok lagi

Maaf, Gusti

Sebagai ciptaan-Mu yang diemban untuk jadi yang paling sempurna,

Nyatanya merela adalah ketidaksempurnaan saya

Advertisements

Pinta Meracau

Aku ingin mendengar kau meracau lagi. Sepanjang malam. Sepanjang jam makan siang. Sepanjang kemacetan jalan. Sepanjang kebosananku membuat desaign poster. Sepanjang jam lembur yang sering ngawur. Sepanjang hari, seperti kali ini.

Ku pinta meracaulah. Setidaknya untukku.

Kamu kenapa sih, Sa?!

Aku tersentak sepersekian detik. Lalu menggelengkan kepala dan melemparkan senyum pada kau yang kini menunjukkan raut wajah kebingungan dengan alis saling terkait.

Ah, yasudahlah. Aku tidur saja daripada meracau tapi kau acuh.

Otoriter

“Keluargaku tuh orangnya agamis semua loh, Res..” ucapnya dengan nada yakin. Intonasinya sangat ketara. Bahkan sebelum dia mengucapkan kalimat ini, cerita demi cerita yang dia utarakan sebelumnya sudah cukup menggambarkan kenyataan yang ada.

“Agamis yang gimana, mas?”

“Ya yang sholat lima waktu dan harus jaga cara berpakaian.”

Aku mengangguk dari ujung telefon. Lumrah sih, pikirku. “Kalau tuntutan istri harus bisa masak, termasuk kah, mas?”

“Kalo itu enggak sih,” dia menjawab dengan nada santai. “Pokoknya itu tadi, jaga cara berpakaian dan sholat. Terus enggak ngerokok dan mabuk juga.”

Aku termenung dan menunggu dia melanjutkan ceritanya.

“Makanya kalo aku di sini, di sekitaran rumahku, aku enggak mau ngerokok atau mabuk.”

Aku tersenyum dan terkekeh kecil. Dia lalu menambahkan, “Untungnya aku punya teman-teman yang ketika aku mabuk berat dan skip, mereka bisa bantu nutupin. Jadi, sampai sekarang image ku di sekitaran rumah masih tergolong ‘anak baik-baik’. Sampai ada beberapa orang yang mengeluh-eluhkan aku dan ngebandingin anak mereka yang ‘nakal’ ke aku yang ‘dikira’ enggak pernah ngerokok dan mabuk.”

. . .

Ceritanya kali ini membuatku termenung juga. Kemudian mengukur sendiri diriku terhadap hal-hal yang juga sudah aku lakukan.

Ah, hidup memang rumit.

Little Did I Know

I actually wasn’t sure enough about what happened between us. It just happened so fast and the only thing I remember was the pain. I also felt so numb.

But I knew what I was going to do—gotta rescue my own feeling. I don’t want to get hurt again. I don’t want to fall for the wrong person. I don’t want to give up my feeling just to make someone happy but deep down I’m crashing down.

So I cut the wire off. Eventhough it hurts me, I have to do it.

And since then, I feel so much better. I can save myself, LITERALLY save myself. I’m no longer have to wait for the worst pain to smack me on the face before I realized that it is the real signal for me to get rescued.

I am really happy with my decision.

Potong Rambut

Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku dan aku resah jika tidak membaginya dengan kau.

Yup! You are still you even you cut your hair, Sa.

Alisku berkait. Karena aku ingat benar bahwa kau mempunyai tipe lelaki idaman berambut gondrong.

Well, I could have a long hair type of men to date with but if their behaviors or their way of thinking didn’t match mine, so what is the point of having such a men-type then?!

Masih ada setitik keraguan di dalamku. Entah mengapa.

Sa, just be you and do what you want to do. If you want to cut your hair bald, do it. Want to make it curl like Lorde, go ahead. You don’t have to be worried about it. That’s your hair anyway.

Tapi, aku ingin menjadi sesuai tipe kau. Itu saja.

Whatever you’ll do with your hair, I don’t care. It won’t effect your behaviors toward me. I know that for sure. Cause you are you, Sa, no matter what hairstyle you choose.

Senyum lega muncul di wajahku. Aku menghela nafas bangga.

But, you know what?! I think I’ll move out once I saw your short hair.

Tawa kencang kau menggelegar. Bantal putih ku lempar kencang ke arah kau tapi meleset karena kau sudah lebih dulu berlari menghindar.

I’m joking okay!

Kau tertawa lagi.

But I’m not joking when I said I care about you, Sa. You know I’m not lying about that, right?!

Kau berlalu—kemungkinan menuju arah dapur. Sedangkan aku akhirnya tau bahwa kau akan menerimaku apa adanya.

Isi Kepala

Sa, isi kepalaku ramai benar. Bisakah bantu aku redamkan mereka?

Akhir-akhir ini permintaan kau selalu serupa. Namun aku paham. Jadi, selagi melihat kau merebahkan badan kau dengan lemas, aku ikuti dengan cemas.

Sa, aku ini terlalu cerewet kah?

Aku menimbang jawabanku sendiri. Takut menyakiti dan membuat kau tak enak hati. Aku menggeleng.

Tapi, aku merasa aku cerewet padamu. Maaf ya.

Aku menggeleng lagi dan berkata bahwa aku tidak merasa seperti yang kau rasa.

Apakah aku terlalu agresif terhadapmu, Sa?

Aku tidak faham.

Aku terlalu mendikte dan mengarahkanmu menurut kehendakku, begitu.

Aku menggeleng lagi.

Terima kasih, Sa. Isi kepalaku belum benar-benar redam, tapi cukup aku nyaman di sini.

Senyum tipis merekah di wajah kau sembari mendekat pada dada ku. Wangi rambut kau buatku mengecup lagi kepala kau yang ku yakin sudah sangat berisik hingga kau terlelap kini.

….

My puzzle girl, kepalaku ramai benar. Bisakah kau bantu aku redamkan mereka?

Tetapi, jangan.

Jangan redamkan mereka.

Aku tak ingin mereka meredamkan: kau.

Uncertain

I feel this moment so often

You know, a feeling of uncertainty is so weird and abstract

I know this will effect me sooner or later

But I just don’t know why I kept doing this

I kept directing my feet one step forward the uncertainty

Well, I think the uncertainty is a part of life, eh?

Sejumput Rasa

Have you ever imagine that we’ve come this far?

Tangan kami bersahutan—saling menggenggam.

Nope.

Jari-jari tangan kami bersahutan—saling terikat.

Malam itu begitu syahdu.

Begitu ramai dengan gelak tawa.

Begitu hangat dengan debaran kasih.

Aku mau ini terus begini.

Tapi dayaku kalah oleh Tuhan, mestinya.

Setidaknya aku dibiarkan-Nya bahagia kali ini.

Bukankah begitu, Tuhan?

Tak Lagi Mau Merindu

“Kapan kita bisa bertemu?”

ucap ku dalam malu.

“Entahlah. Aku sedang sibuk beberapa hari ini.”

ucap kau dalam gusar.

Aku terdiam. Sedihku menyeruak seketika. Tapi aku rindu.

“Memangnya tidak bisa bertemu barang sebentar? Satu atau dua jam saja, begitu?!”

Kau terdiam. Tapi aku rindu.

“Bisa sih tapi..”

Tapi aku rindu.

“Oke. Aku akan kabari kamu kalau waktunya pas.”

Aku terdiam. Lagi. Rinduku berhembus hilang.

“Oke.”

Cermin Diri

Dia berjalan layaknya manusia lain berjalan. Dia melewati hutan hujan kala itu. Pernah juga gersangnya gurun atau keringnya lembah. Tapi dia tetap berjalan. Tanpa harapan namun tetap hidup.

Beberapa kawannya membuat sarang. Hinggap mereka di dahan. Awalnya untuk sekedar berteduh namun akhirnya berlabuh jua di sana. Meninggalkan dia yang masih terus berjalan menuju ke entah dengan segenggap jemari penuh cerita klasik: Pernikahan.

Bukan dia tak pernah memikirkan untuk membuat sarang, hinggap di dahan, dan menetap. Dia hanya berpikir bahwa: ini belum saatnya. Belum saatnya dia membuat sarang. Belum saatnya dia hinggap di dahan. Belum saatnya dia berteduh. Dan belum saatnya dia berlabuh. Dia masih butuh waktu. Berapa lama pun waktu yang dia butuh, dia yakin nanti.

Sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan klasik di pikirannya yang seperti hutan rimba itu. Bergelayutan mereka ke sana ke mari untuk mendapatkan perhatiannya sejenak. Jika lelah hatinya, mereka muncul. Jika senang hatinya, pun untuk menengok, mereka ogah. Secarut-marut itu pikirannya.

“Apakah aku sudah siap untuk menjalin hubungan serius dengan seseorang?”

“Apakah aku bisa mengontrol diriku sendiri agar aku tidak lagi terjebak oleh perasaanku sendiri?”

“Manakah yang kini aku alami: euphoria sementara karena aku merasa telah menemukan seseorang yang aku suka saja atau ini benar-benar perasan yang nyata?”

“Benarkan aku sungguh-sungguh tak ingin menikah karena ketakutanku sendiri terhadap sisi gelap manusia saja atau hanya karena aku belum menemukan manusia dengan sisi gelap yang dapat aku terima?”

“Bisakah aku memaafkan diriku sendiri karena telah menjadi terlalu ‘toleran’ terhadap manusia yang menyakitiku?”

“Apakah dengan membuat akun di dating apps dapat benar-benar membantuku dalam menemukan manusia idaman yang juga serius dalam menjalin hubungan perasaan dan pikiran; dan bukan hanya untuk berhubungan badan?”

Semacam itu.