Uncertain

I feel this moment so often

You know, a feeling of uncertainty is so weird and abstract

I know this will effect me sooner or later

But I just don’t know why I kept doing this

I kept directing my feet one step forward the uncertainty

Well, I think the uncertainty is a part of life, eh?

Advertisements

Sejumput Rasa

Have you ever imagine that we’ve come this far?

Tangan kami bersahutan—saling menggenggam.

Nope.

Jari-jari tangan kami bersahutan—saling terikat.

Malam itu begitu syahdu.

Begitu ramai dengan gelak tawa.

Begitu hangat dengan debaran kasih.

Aku mau ini terus begini.

Tapi dayaku kalah oleh Tuhan, mestinya.

Setidaknya aku dibiarkan-Nya bahagia kali ini.

Bukankah begitu, Tuhan?

Tak Lagi Mau Merindu

“Kapan kita bisa bertemu?”

ucap ku dalam malu.

“Entahlah. Aku sedang sibuk beberapa hari ini.”

ucap kau dalam gusar.

Aku terdiam. Sedihku menyeruak seketika. Tapi aku rindu.

“Memangnya tidak bisa bertemu barang sebentar? Satu atau dua jam saja, begitu?!”

Kau terdiam. Tapi aku rindu.

“Bisa sih tapi..”

Tapi aku rindu.

“Oke. Aku akan kabari kamu kalau waktunya pas.”

Aku terdiam. Lagi. Rinduku berhembus hilang.

“Oke.”

Cermin Diri

Dia berjalan layaknya manusia lain berjalan. Dia melewati hutan hujan kala itu. Pernah juga gersangnya gurun atau keringnya lembah. Tapi dia tetap berjalan. Tanpa harapan namun tetap hidup.

Beberapa kawannya membuat sarang. Hinggap mereka di dahan. Awalnya untuk sekedar berteduh namun akhirnya berlabuh jua di sana. Meninggalkan dia yang masih terus berjalan menuju ke entah dengan segenggap jemari penuh cerita klasik: Pernikahan.

Bukan dia tak pernah memikirkan untuk membuat sarang, hinggap di dahan, dan menetap. Dia hanya berpikir bahwa: ini belum saatnya. Belum saatnya dia membuat sarang. Belum saatnya dia hinggap di dahan. Belum saatnya dia berteduh. Dan belum saatnya dia berlabuh. Dia masih butuh waktu. Berapa lama pun waktu yang dia butuh, dia yakin nanti.

Sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan klasik di pikirannya yang seperti hutan rimba itu. Bergelayutan mereka ke sana ke mari untuk mendapatkan perhatiannya sejenak. Jika lelah hatinya, mereka muncul. Jika senang hatinya, pun untuk menengok, mereka ogah. Secarut-marut itu pikirannya.

“Apakah aku sudah siap untuk menjalin hubungan serius dengan seseorang?”

“Apakah aku bisa mengontrol diriku sendiri agar aku tidak lagi terjebak oleh perasaanku sendiri?”

“Manakah yang kini aku alami: euphoria sementara karena aku merasa telah menemukan seseorang yang aku suka saja atau ini benar-benar perasan yang nyata?”

“Benarkan aku sungguh-sungguh tak ingin menikah karena ketakutanku sendiri terhadap sisi gelap manusia saja atau hanya karena aku belum menemukan manusia dengan sisi gelap yang dapat aku terima?”

“Bisakah aku memaafkan diriku sendiri karena telah menjadi terlalu ‘toleran’ terhadap manusia yang menyakitiku?”

“Apakah dengan membuat akun di dating apps dapat benar-benar membantuku dalam menemukan manusia idaman yang juga serius dalam menjalin hubungan perasaan dan pikiran; dan bukan hanya untuk berhubungan badan?”

Semacam itu.

Telak

Tidak boleh!

Teriakan dari dalam kepalanya semakin kencang. Berdengung lagi suara yang sama. Lebih kencang.

Cukup!

Kedua tangannya menahan kepalanya yang sempoyongan dihajar carut-marut pikiran. Mengeryit dahinya. Bergelatuk giginya. Tangannya begitu kaku.

Lepaskan!

Matanya menutup rapat. Rapat sekali hingga membentuk garis wajah. Tubuhnya membungkuk. Ambruk menimpa tanah. Kalah.

Masyarakat modern memiliki sejarah emosional yang tertutup, yang sudah semestinya ditarik ke permukaan. Masyarakat modern adalah sejarah pencarian seksual laki-laki, yang dipisahkan dari diri publik mereka. Kontrol seksual perempuan oleh laki-laki lebih dari sekedar sebuah kebetulan kehidupan sosial modern. Ketika kontrol itu mulai retak, kita bisa menyaksikan bahwa karakter seksualitas laki-laki yang kompulsif terungkap jelas, dab runtuhnya kontrol ini mendongkrak angka kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Pada saat itu, jurang emosional antara dua makhluk berjenis kelamin beda itu mulai terbuka, dan tak seorang pun yang dapat menjamin seberapa jauh ketimpangan itu akan terjembatani.

(hal. ix – x)

Transformation of Intimacy: Seksualitas, Cinta dan Erotisisme dalam Masyarakar Modern

Benang Merah

Aku menggambarkan tubuhku telanjang.

Kemudian menyembul benang-benang merah dari dalam tubuhku.

Benang-benang itu tumbuh memanjang seraya aku bertumbuh.

Tapi tidak semua.

Sengaja aku cabut beberapa karena tiada guna lagi.

Berdarah tubuhku, menganga bekasnya.

Biar saja!

Nanti juga sembuh, ucap kalbu.

Pikiranku lantas melayang pada kemungkinan-kemungkinan lain.

Apakah nanti benang-benang yang telah ku cabut bisa ku tanam lagi pada tubuhku?

Apakah nanti lubang menganga itu masih ada?

Apakah nanti..

Lantai Tertinggi

Aku baru saja bangun dan tidak menemukan kau di mana pun—tidak di dapur, di sofa, di kamar mandi, atau di balkon. Aku menelisik layar handphone untuk menemukan pesanmu, tapi nihil. Di mana dia, batinku berteriak panik. Aku mencoba mengingat-ingat percakapan semalam dengan kau. Mencari petunjuk keberadaan kau yang mungkin saja terselip di antara kalimat-kalimat yang tentu saja tak semua dapat ku ingat.

Handphone ku berdering dan menampilkan nama kau di layar.

“Hey, easy. I’m okay.” ucap kau dengan nada yang tenang. Tapi aku masih begitu panik sehingga aku tak dapat mengontrol nada suaraku sendiri.

Lama kau terdiam tapi aku bisa tau kau sedang berada di luar. Dari suara angin yang berdesir kasar di speaker.

“Sa, aku sedang ada di atas. Maaf aku meninggalkan kau tanpa kabar. Tapi, aku rindu berada di atas sini.”

Aku mengiyakan kalimat kau. Aku lebih tenang kini.

 

“Sa, apa kau tidak ada ide untuk melakukan kegiatan yang lebih asik daripada tidur seharian?”

Aku tidak bisa mendengar kau dengan jelas karena kau berkata dari balik selimut tebal yang membungkus tubuh kau dari kepala hingga kaki.

Kau membuka selimut di bagian wajah kau lalu berkata lagi setengah berteriak, “APAKAH KAU TIDAK BOSAN TIDUR SEHARIANNNN?”

Aku tersenyum dan bangkit dari kursi kerja untuk menghampiri kau dan menanyakan apakah kau benar-benar begitu bosan dan kau mengangguk dalam selimut tebal yang bergoyang begitu tiba-tiba dengan sebuah tangan menyembul dan membentuk simbol ‘OK’ dengan jari.

Aku membuka selimut tebal itu dan memintamu untuk bangkit dan pergi keluar namun kau nampak begitu malas untuk beranjak. Setelah 5 menit meyakinkan, akhirnya kau mau untuk mengikutiku. Setelah satu jam penuh menyusuri jalanan padat dengan iringan pertanyaan kau tentang berbagai hal yang terlintas, aku begitu bangga pada diriku saat melihat kau begitu senang.

“Apa nama tempat ini, Sa? Mengapa kau baru membawaku ke sini sekarang, hah?! Ini sangat tidak adil!”

Desiran angin. Warna keperakan. Atap rumah-rumah. Percakapan dari jauh. Bangunan megah di ujung garis mata. Semua begitu ku rindukan juga.

“Apakah kau tidak ingin menyusulku, Sa? Aku sepertinya butuh pelukan kau kali ini.”

Aku tiba di sana dan melihat senyum kau lagi. Kau memintaku untuk memeluk kau dan menikmati hari itu sambil memandangi kerinduan yang sama.

Aku mengiyakan kalimat kau. Aku lebih tenang kini.

Perihal Kau dan Aku

Bisakah kita terikat

Tanpa keinginan untuk mengikat?

Bisakah kita mencintai

Tanpa keinginan untuk menguasai?

Bisakah kita berdua

Tanpa sehelai kain menghalangi?

Maksud ku,

Aku suka konsep membungkus badan di dalam selimut

Agar kehangatan tetap bersarang bersama tubuh kau dan aku yang apa adanya

Tapi,

Aku hanya tak ingin kain ketidakjujuran menghalangi kau dan aku untuk saling menemukan

Dan bukan kah ketelanjangan yang sudah kita mulai, bukan lagi perihal puncak klimaks? Melainkan murni perihal kau dan aku?

When people who are tolerably fortunate in their outward lot do not find in life sufficient enjoyment to make it valuable to them, the cause generally is, caring for nobody but themselves.

(p. 16)

Utilitarianism